Rabu, 17 Juni 2009

MEMBINA RUMAH TANGGA "SAMARA" (2)

B. KEHIDUPAN DI KAMPUS IAIN CIPUTAT. (1964-1967)

1.Sebelum Menikah.

Sejak kakanda M.Yahim dan ayuk Suliana berkunjung kerumah Iyang di Tebet Barat hubungan kami terasa ada semacam perubahan, walaupun hal itu hanya dirasakan oleh kami berdua saja. Puncaknya adalah disaat saya menderita sakit (yang misterius), seakan akan mendapatkan sakit kiriman mungkin semacam santet. Perasaan saya biasa-biasa saja namun para teman mahasiswa yang melihat kondisi saya pada saat itu sangat mencemaskan, saya berbicara diluar kontrol dan sulit untuk dimengerti oleh pendengar. Teman-teman berdatangan kerumah kakanda M.Yahim karena saya berada diruang kamar depan rumah beliau. Sesepuh KEMAS Bp. H.Hamdani Aly, MA mengirim isterinya untuk melihat keadaan sakit saya, karena istri beliau mempunyai kemampuan (semacam paranormal) dan setelah ditangani beliau alhamdulillah sakit saya sembuh.

Adik kandungku A.Fanani Zubir menginformasikan keadaan sakit saya kepada ayah dan ibu dikampung membuat beliau berdua dengan segala upayanya datang ke Jakarta walaupun belum pernah mengatahui seluk beluk perajalanan menuju Jakarta. Alhamdulillah dengan modal niat yang ikhlas akhirnya beliau berdua sampai ke Ciputat.

Di Ciputat saya perkenalkan dengan teman-teman terutama keluarga kakanda M.Yahim dan tidak ketinggalan memperkenalkan Iyang kepada beliau berdua.Pada saat diperkenalkan dengan Iyang kelihatan mereka merasa kikuk terutama dengan sikap Iyang yang terkesan “Akrab dan Hormat” walau baru kenal namun tidak menunjukkan kekakuannya. Dilain kesempatan beliau memberi komentar :…“Sangat Simpati” akan sikap Iyang yang begitu antusias dan hormat kepada mereka walaupun mereka adalah “Orang Tua Desa” yang baru dikenalnya. Atas komentar “positif” beliau ini saya mencoba untuk meminta komentar beliau : jika ditakdirkan oleh JME Iyang menjadi menantu mereka”. Atas permintaan saya ini mereka berkomentar singkat : “Apakah mungkin dia akan mau menjadi anak kami” ? diiringi dengan wajah begitu pasrah, harap dan malu. Setelah meyakini atas keseriusan ucapan saya itu maka sebelum pulang kekampung beliau mendatangi kakanda M.Yahim dan ayuk kiranya berkenan menjadi wakil mereka untuk melakukan proses selanjutnya, kakanda M.Yahim dan ayuk dengan ikhlas menjawab akan kesediaan mereka.

Kesibukan mahasiswa pada saat itu adalah menghadapi situasi Pasca Coup de tat PKI dengan G.30S/PKI yang gagal. Para mahasiswa mengadakan kegiatan bersama dibawah organisasi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan Ketua Pimpinan Pusatnya M. Zamroni,BA mahasiswa IAIN Ciputat, Demonstrasi besar-besaran dengan thema pokok “Ganyang PKI” dan antek-anteknya. Dengan organisasi KAMI ini Mahasiswa merasa Satu tanpa dikotak-kotakkan, Sebelumnya kami mendapat indoktrinasi dari senior kami bahwa organisasi yang paling hebat itu adalah organisasi kami masing-masing. Sehingga dikampus IAIN yang hanya ada 2 (dua) organisasi ekstra yaitu PMII dan HMI berpacu dalam kondisi yang “tidak sehat” bahkan bernuansa “bermusuhan”. Hal ini berdampak dalam hubungan kami berdua karena kami merupakan aktifis dari kedua organisasi tersebut.

Alhamdulillah organisasi KAMI menghilangkan sekat-sekat itu, karena semua organisasi berkonsentrasi menghadapi musuh Bangsa dan Agama yaitu PKI .

Siang malam para mahasiswa mengikuti perkembangan dan berita tentang kegagalan PKI dan para korban yang dibunuh oleh PKI terutama para Jenderal Angkatan Darat Tujuh Pahlawan Revolusi. Untuk para mahasiswa IAIN Ciputat perkembangan dan berita ini dapat dimonitor melalui Radio Transistor kepunyaan Mahasiswi yang saat itu masih merupakan barang mewah dan langka. Alhamdulillah Radio tersebut kepunyaan Iyang. Sehingga kami lebih banyak berkumpul diasrama putri tempat tinggalnya yang terletak persis didepan Kantor Cabang PMII Ciputat.

Dalam setiap demonstrasi kami selalu ikut serta menggunakan kendaraan “Truk terbuka”dengan penumpang yang melampawi kapasitas yang wajar. Sasaran demonstrasi adalah para tokoh yang dianggap simpati kepada Gerakan terkutuk G.30 S/PKI dan Puncaknya adalah Demonstrasi didepan Istana Negara untuk menumbangkan Orde Lama dan berakhir dengan berhasilnya tuntutan Mahasiswa yang terkenal dengan Tri Tuntutan Rakyat “Tritura” yang berisi : Bubarkan PKI, Turunkan Harga, Bubarkan Kabinet Nasakom. Walaupun penuh dengan kegiatan-kegiatan demonstrasi namun hubugan kami bertambah akrab dan mesra sehingga terpikirlah untuk merintis kelanjutan menjalin dan membina rumah tangga.

a. Silsilah :

Sumiarty Absyar, Iyang atau Sum adalah anak putri kesayangan dalam keluarga karena dia adalah cucu perempuan tertua dalam keluarga sehingga dia adalah merupakan pewaris utama dan perdana keluarga dalam tatanan adat Minangkabau. Ibunya bernama “Syariyah binti Thalib” mempunyai 3 orang saudara laki-laki sebagai Mamak Rumah yaitu : 1. H. M.Rasyid Thalib alumni Thawalib Padang Panjang seorang Ulama’ besar di Sumatera Selatan terkenal sebagai Da’i Kondang dan Dosen IAIN Raden Fatah Palembang. Mantan Kepala Penerangan Propinsi Sumatera Selatan, Tokoh Masyumi Sumatera Selatan ditahun limapuluhan. Pernah menjabat sebagai Ketua Majlis Ulama (MUI) Propinsi Sumatera Selatan dan Ketua Muhammadiyah Propinsi Sumatera Selatan.

2. Mr.H.Sayuti Thalib , Alumni Thawalib Padang Panjang, Alumni Fakultas Hukum UI, Dosen Senior Fakultas Hukum UI/UID/UKI. Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, Pejabat Tinggi pada Departemen Pertambangan, Mantan Sekjen PN.Timah, Pengurus PP Muhammadiyah.

3. Drs. H. Amiruddin Thalib ; Alumni Thawalib Padang Panjang, Sarjana Administrasi, Pejabat Tinggi pada PN Aneka Tambang, Pendiri dan Ketua Yayasan Pendidikan Budaya.

Ayahnya adalah H.Abdul Bari Arif gelar Sutan Indomo anak tunggal yang ditinggal wafat oleh ayahnya pada saat beliau masih dalam kandungan, sedangkan ibunya wafat pada saat beliau masih kecil. Beliau merupakan pejuang Daerah Sumatera Barat dalam meningkatkan potensi Sumatera Barat dalam perjuangan PRRI, tercatat sebagai Pensiunan ABRI. Dalam kekerabatan beliau Mempunyai hubungan keluarga dekat dengan Buya HAMKA yang dalam adat Minangkabau disebut Sepesukuan dengan beliau.

Iyang dilahirkan dipinggir Danau Maninjau Desa Gelapung Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam Sumatera Barat pada tanggal 1 September 1943, mempunyai lima orang saudara masing-masing : Syahrial, Suhairi, Supriaty,Sustiaty dan Sufniwaty (dua orang putra dan tiga orang putri) semuanya bekerja dan tinggal di Jakarta. Setelah menamatkan Pendidikan SR di Palembang kemudian melanjutkan ke- SMPN di Jakarta, kemudian kembali ke Maninjau mengikuti Pendidikan Madrasah Thawalib Putri Padang Panjang mengikuti jejak para mamaknya. Sayang situasi Sumatera Barat pada saat itu bergejolak dengan PRRI sehingga terpaksa hijrah kembali ke Palembang tinggal dirumah mamaknya K.H.M.Rasyid Thalib dan mengikuti Pendidikan di “Persiapan IAIN Palembang” (Tingkat SLTA). dan tammat tahun 1963 kemudian menyusul orang tuanya di Jakarta melanjutkan pendidikan di Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta sampai dengan Tingkat III (Bacaloreat). Setelah mengikuti suami bertugas di Ambon berkesempatan menyelesaikan pendidikan di Ambon pada tahun 1992, dan melengkapi namanya “Dra.H.Sumiarty Absyar”

b. Persiapan Bekeluarga.

Dengan dasar penyerahan ayah dan ibu kepada kakanda M.Yahim Singgam untuk memproses rencana keinginan kami untuk berumah tangga maka pada bulan Agustus 1966 kakanda M.Yahim Singgam kembali berkunjung kerumah orang tua Iyang dikawasan Terbet Barat untuk menyampaikan niat dan keinginan kami untuk membina rumah tangga. Kedatangan kakanda M.Yahim Singgam diterima dengan senang hati oleh orang tua Iyang Abdul Bari Arif. Setelah mendengar ungkapan kakanda M.Yahim orang tua Iyang menyambut dengan rasa gembira namun belum dapat memberikan jawaban yang tuntas, karena jawaban yang tuntas`harus dimusyawarahkan oleh para ninik mamak. Untuk itu kami harus menunggu jawaban tersebut dengan sabar.

Kedatangan kakanda M.Yahim serta ungkapan penyampaian keinginan kami untuk bekeluarga disampaikan oleh orang tua Iyang kepada seluruh Ninik mamak terutama mamak H.M.Rasyid Thalib yang berstatus Angku Gadang yang akan menetapkan bentuk jawaban keluarga. Beliau berada di Palembang maka salah satu tindakan beliau adalah mengadakan kunjungan mendadak dan silent (diam-diam) kekampung kami Desa Arahan Lahat yang berjarak lebih kurang 200 km dari kota Palembang dengan naik Kereta Api malam untuk menemui ayah dan ibu serta mencari informasi tentang diri saya dari masyarakat. Suatu tindakan yang sangat bijaksana dan hati-hati dari seorang mamak dalam menentukan calon jodoh kemenakannya. Tentang kedatangan beliau kekampung kami Desa Arahan ayah dan Ibu menceritakan kepada saya : …. “ bahwa pada suatu hari setelah selesai sholat subuh ada orang menyampaikan berita kepada ayah bahwa distasiun Kereta Api Banjar Sari (kampung kami) ada seorang pembesar turun dari Kereta Api dan sedang bebincang-bincang dengan Kepala Stasiun dan menyatakan ingin menemui ayah dan Ibu”. Pada saat itu Ayah dan Ibu merasa cemas ; siapakah gerangan, apa tujuannya, membawa berita baik atau buruk dan setumpuk pertanyaan lagi yang tersimpan dalam hati beliau.

Setelah beberapa saat dinanti datanglah beliau yang dimaksud serta mengucapkan “Salam” dengan suara beliau yang khas dan berwibawa, ayah dan ibu menjawabnya dengan perasaan senang bercampur cemas. Beliau mengawali perkenalannya dengan ungkapan bahwa beliau adalah “teman Bidawi” di Jakarta dan ingin menanyakan berita tentang keluarga terutama anak istrinya. Kemudian ayah dengan ramah dan polos mengucapkan “Selamat datang” dan “terima kasih” atas`kedatangan tamu agungnya ini. Setelah mempersilahkan minum ala kadarnya ayah menjawab pertanyaan beliau : “Alhamdulillah kami berdua adalah orang tua Bidawi dalam keadaan baik-baik, adapun tentang keluarganya yaitu anak dan isterinya sampai sekarang Bidawi belum punya istri dan baru merencanakan ingin beristri dengan teman kuliahnya” sambil menunjuk

foto ukuran Post Card yang terletak dalam lemari kaca dihadapan beliau`, yaitu foto Iyang. Melirik foto ini beliau merasa terharu karena foto itu adalah foto kemenakannya sendiri. Dalam situasi seperti ini beliau tidak ingin berpanjang kalam membingungkan tuan rumah. Akhirnya beliau menyampaikan maksud beliau yang sebenarnya serta memperkenalkan diri siapa dan apa tujuan kedatangan beliau. Mendengar keterangan tamunya ini ayah dan ibu menjadi malu karena baru saja menunjukkan foto calon mantunya justru kepada mamaknya sendiri. Akhirnya beliau selaku ‘Ulama’ dan Da’i kondang merubah strategi bicaranya dengan menyelidiki sikap ayah dan ibu atas rencana kami ini. Ayah dan Ibu menjawab dan menerangkan secara polos`bahwa beliau sangat merasa bersykur jika hal ini dapat terlaksana. Alhamdulillah pertemuan mereka berjalan dengan baik dan lancar dalam situasi kekeluargaan dan berakhir dengan happy end, dan beliau pamit untuk kembali ke Palembang.

c. Pertunangan.

Dua bulan setelah kunjungan kakanda M.Yahim Singgam menemui orang tua Iyang, pada bulan Oktober 1966 kami mendapat berita bahwa seluruh ninik mamak telah “Sepakat” untuk menerima lamaran yang yang kami ajukan. Untuk itu kembali kami bersama kakanda M.Yahim merencanakan berkunjung menemui orang tua Iyang dan sekaligus mendengarkan jawabannya dan jika memungkinkan sekaligus mengkongkritkan rencana selanjutnya. Dan pertemuan inipun berfungsi sebagai peresmian pertunangan. Alhamdulillah pertemuan terlaksana dengan baik semua rencana tercapai dan kamipun dipertunangkan dalam bentuk “Bersalaman” antara wakil kedua belah pihak. Kemudian disepakatilah Hari pernikahan kami akan dilaksanakan pada Hari Jum’at tanggal 20 Januari 1967 dirumah Iyang di Jl.Tri Jaya Tebet Barat Kecamatan Manggarai Selatan Jakarta Selatan

Berita ini disampaikan kepada semua pihak terutama Ayah dan Ibu dikampung, teman-teman kuliah, untuk mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin dilaksanakan.

Jarak antara Hari Pertunangan dengan Hari Pernikahan hanya sekitar 3 bulan.

Pergantian hari sangat cepat sekali dirasakan akhirnya sampailah waktu yang dinanti-nantikan , Ayah dan Ibu telah tiba di Ciputat bersama adinda Rumsyah dan Honama, Kakanda M. Soleh sekeluarga dan kakanda Husni sekeluarga tidak dapat hadir karena situasi yang tidak memungkinkan.

2. Pelaksanaan Pernikahan.

a. Prosesi Aqad Nikah.

Hari yang dinanti-nanti Jum’at 20 Januari 1967 kini telah tiba , sesudah sholat subuh Ayah dan Ibu beserta seluruh keluarga yang akan mengikuti prosesi pernikahan telah siap dirumah. Timbul kecemasan pada saat itu karena mobil taksi sedan yang dipesan melalui Uni Yus (isri Pak Nazar) tidak kunjung tiba. Berhubung hari itu hari Jum’at waktu sangat terbatas maka dengan sigap teman terdekatku Burhani Madawas mengambil inisiatif dengan mencari mobil Angkot untuk membawa rombongan menuju tempat aqad nikah di Tebet Barat. Dengan mobil angkot yang sederhana sampailah kami ketempat aqad nikah tanpa hambatan. Dirumah Iyang telah menunggu seluruh keluarga terutama sekali para ninik mamak. Tiba saatnya dilaksanakanlah proses Aqad Nikah oleh Kepala KUA Manggarai Selatan dengan wali mujbir langsung orang tua Iyang Abdul Bari Arif dengan Maskawin sebuah Kitab Tafsir Alqur’an 30 Juz (kini tersimpan rapi dalam lemari ukir di desaku Arahan). Atas saran dari mamaknya H.M.Rasyid Thalib naskah Taklik thalaq tidak perlu saya baca.

Dalam musyawarah ninik mamak saya selaku “Urang Sumando” (orang datang) kedalam lingkungan keluarga Minang yang berasal dari luar suku minang diminta kesediaan untuk dimasukkan kedalam keluarga Minang yang mempunyai suku yang patut bersanding dengan Iyang yang mempunyai suku Melayu , maka ditetapkanlah saya masuk dalam suku Tanjung sebagai anak dari keluarga Nurbaiti istri H.Sayuti Thalib,SH dan diberi Gelar suku Tanjung “SUTAN MAHMUD”, maka sejak saat itu dalam lingkungan keluarga Minang saya dipanggil dengan nama adat Sutan Mahmud, yang merupakan gelar yang dilekatkan dalam bahasa minang disebut “Sutan Malakok”.

Setelah selesai prosesi Aqad Nikah, saya dan seluruh rombongan kembali ke Ciputat dengan angkot sewaan yang masih menunggu kami. Alhamdu lillah kini kami telah syah dan resmi menjadi Pasangan Suami Istri.

b. Walimatul ‘Ursy di Tebet Barat.

Dua hari setelah aqad nikah tepatnya hari Minggu 22 Januari 1967 keluarga Iyang di Tebet Barat melaksanakan walimatul “ursy (pesta perkawinan) dengan mengundang ahli famili dan teman-teman kami dari Ciputat. Pelaksanaannya cukup meriah dilaksanakan dirumah Iyang Jl.Tri Jaya Tebet Barat.

Pagi itu saya dijemput ditempat tinggal kami di Komplek IAIN Ciputat oleh perwakilan keluarga menurut adat Minang yang dipimpin oleh Bapak Sutan Sudin dengan mobil sedan mewah membawa “Carano” dan “Saluk” (Topi Kebesaran adat yang akan dipakai pada saat bersanding).

Kedatangan Sutan Sudin yang lebih akrab kami panggil “Pak Dobol” disambut dengan ketentuan adat yaitu mendengarkan petatah petitih maksud kedatangan penjemput dan makna dari carano yang dibawa serta tata cara pemakaian Saluk.

Carano diterima, Sirih pinangnya dicicipi, Saluk dipasangkan diatas kepala penganten (begitu pas ukurannya). Kemudian penjemput dipersilahkan mencicipi hidangan yang disediakan, dan acara diakhiri dengan pembacaan do’a selamat bagi pelaksanaan acara yang akan dilaksanakan, do’a ini berfungsi sebagai “Malapeh anak ka pai Manikah” melepas anak akan pergi Menikah. Setelah rampung semua acara penjemputan ini maka penganten dinaikkan kemobil penjemput dengan diiringi oleh rombongan yang akan menghadiri upacara walimah. Setelah mobil dan rombongan tiba ditempat upacara dilaksanakan upacara adat disambut dengan simburan beras`kuning oleh para “Etek dan Uni” kemudian disambut oleh Sang Raja Putri dengan pakaian kebesaran “Sunting Lengkap” kelihatan begitu berat menahan perangkat diatas`kepalanya yang terdiri dari kembang goyang dari emas begitu sarat dan ramai sehingga kelihatan kepalanya berubah menjadi tumpukan kembang goyang. Sang Penganten Putra disandingkan disamping Penganten Putri sehingga berpadulah mahkota kembang goyang yang dipakai oleh Penganten Putri dengan Saluk kebesaran yang dipakai oleh Penganten Putra. Perangkat upacara ; Pelaminan serta pakaian kedua penganten yang bernuansa Adat Kebesaran alam Minangkabau membuat situasi pesta begitu meriah dan khidmat.

Acara puncak sebelum memberikan Ucapan Selamat dengan bersalaman kepada kedua Raja sehari ini, Nasehat Perkawinan yang disampaikan seorang Tokoh terkemuka Minangkabau Buya H.Malik Ahmad (konon beliau adalah salah seorang yang ditokohkan untuk menjadi salah seorang Menteri jika PRRI direstui), beliau seorang ulama’ yang sangat berwibawa dan disegani oleh seluruh masyarakat Minang baik dirantau maupun di Sumatera Barat. Mendengar suara khas beliau dan berwibawa ini situasi menjadi hening dan khidmat yang diakhiri oleh beliau dengan lantunan do’a.

Acara walimah diakhiri dengan pemberian ucapan selamat kepada kedua mempelai dan makan siang bersama. Semua acara dalam upacara ini berjalan dengan baik dan lancar . Alhamdu lillah.

Selesai acara rombongan keluarga dan teman kembali ke Ciputat dan saya sendiri tinggal dirumah Iyang di Tebet Barat untuk mengikuti acara khusus keluarga diantaranya menikmati gulai “Rendang Kebesaran” yang hanya dihidangkan untuk penganten setelah selesai seluruh rangkaian walimah serta hidangan Gulai “Kapalo Kambing” yang dimasak secara khusus yang akan dinikmati oleh keluarga inti yang hadir nati malamnya. Sejak saat itu saya mulai menggunakan panggilan “Iyang” kepada istri tersayang dan Iyang memanggil suaminya dengan panggilan “Uda”.

c. Walimatul “Ursy di Aula IAIN Syarif Hidayatllah Ciputat.

Para tokoh mahasiswa yang tergabung dalam organisai extra universiter HMI dan PMII merasa`bahwa perkawinan kami merupakan salah satu tonggak dalam mengakhiri “perseteruan” kedua organisasi ini. Mereka meminta agar dilaksanakan walimatul ‘Ursy kami dilingkungan Kampus IAIN Ciputat . Untuk itu semua organisasi tempat kami beraktifitas ; KEMAS, HMI,PMII, GP.ANSOR,N.A, SENAT MAHASISWA FAK.TARBIYAH mendukung rencana ini sehingga terjadilah Walimatul ‘Ursy , yang merupakan “Walimatul ‘Ursy Perdana” bagi Kampus IAIN Ciputat yang dilaksanakan pada hari Sabtu jam 20.WIB s/d selesai tanggal 28 Januari 1967 diaula lantai dua Gedung IAIN Syahid Jakarta.

Kakanda M.Yahim Singgam dan teman-teman anggota KEMAS merupakan tenaga utama dalam mensukseskan acara ini, dengan segala keterbatasan dana maka dilaksanakanlah acara ini. Sebagai pengganti pakaian penganten (Penganggon) maka Ayuk Zumaidy meminjamkan semua perhiasan emasnya untuk dipakai sebagai asesoris pengantin putri dalam acara ini.

Acara dihadiri oleh seluruh tokoh organisasi tempat kami berkiprah di Ciputat, para Dosen kami dan tokoh-tokoh masyarakat Ciputat serta teman-teman dekat. Sambutan atas nama keluarga disampaikan oleh tokoh Mahasiswa berasal dari Lampung Zainal Musa,BA, dan sambutan serta nasehat disampaikan oleh Pembantu Rektor IAIN Syarif Hidayatllah Jakarta Bapak Drs.Mas’udi. Acara berjalan dengan lancar dan khidmat dalam situasi kesedehanaan. Dengan terlaksananya acara ini maka lengkaplah kegiatan yang kami lakukan dalam mempersiapkan pembinaan Rumah tangga kami selanjutnya.

3.Sesudah menikah.

Sesudah menikah kami bertempat tinggal di Komplek Perumahan IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, saya bertugas sebagai Pengawas` Mahasiswa Tugas Belajar di Perguruan Tinggi tersebut. Mahasiswa IAIN pada saat itu sebagian besar adalah mahasiswa tugas belajar yang berstatus Pegawai Negeri Sipil dan sudah bekeluarga tinggal di Komplek IAIN , dan disebelah selatan terletak Komplek Dosen IAIN. Tugas saya dikantor Sekretariat Fakultas Tarbiyah mencatat, melayani dan melaporkan kegiatan mahasiswa tugas belajar kepada Direktorat Pendidikan Agama Departemen Agama Pusat.Mengurus tunjangan belajar seperti untuk pembelian buku, penggantian biaya pembuatan Paper/kertas kerja dan Skripsi, biaya perjalanandinas mahasiswa dan biaya melakukan Riset mahasiswa.. Untuk melayani kebutuhan selaku Pegawai Negeri Sipil seperti jatah beras, jatah minyak tanah dan kebutuhan pokok lainnya dibentuk Koperasi Pegawai Negeri, dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) saya ditunjuk sebagai anggota pengurus bidang Usaha.

Iyang selaku ibu Rumah Tangga muda yang dikenal sebagai tokoh dan aktifis mahasiswa sangat didambakan oleh ibu-ibu Komplek terutama dalam kegiatan organisasi Persatuan Istri Keluarga IAIN (PRISKIAIN) yang beranggotakan para istri mahasiswa dan istri Dosen , Iyang ditunjuk menjadi Ketuanya sedangkan sekretaris Ibu Lujito istri Pembantu Rektor, sehingga menambah kesibukannya sehari-hari. Sejak kami menikah kegiatan perkuliahan Iyang dihentikannya sampai Tingkat III ( Bakaloreat).

Adapun kegiatan di organisasi KEMAS tetap diikuti, sedangkan kegiatan organisasi lainnya mulai dikurangi.

Dirumah tinggal bersama kami adik kandungku A.Fanani Zubir dan M.Djali Affandi teman sejak di PGAP Tanjung Karang tahun 1956 . Dia adalah mahasiswa adik kelas yang setingkat dengan Iyang.

a. Berkunjung kedesa kelahiran.

Pada bulan Maret 1967 dua bulan setelah pernikahan kami berkunjung menemui orang tua di kampung Arahan Lahat sekaligus melaksanakan syukuran. Perjalanan kami didampingi nenek Iyang yang akrab dipanggil “UWAIK” yang telah berumur 70 tahun . Fisik beliau begitu tegar , ingin selalu mendampingi cucu kesayangannya dalam perjalanan jauh ini. Apalagi pada saat itu cucunya telah dinyatakan positif hamil oleh dokter. Diperjalanan menuju Lahat kami mampir di kota Baturaja karena disini tinggal adik ayah Iyang bernama Pak Tamam bersama keluarga lainnya yang mempunyai Rumah Makan Minang “Telaga Biru” didepan Stasiun Kreta Api Baturaja. Mereka antusias sekali menerima kedatangan kami karena pada masa mudanya mereka pernah tinggal dirumah keluarga Iyang di Palembang. Dari Baturaja dengan Kreta Api kami melanjutkan perjalanan menuju Prabumulih kemudian pindah Kreta Api untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Arahan. Dikota Muara Enim kami turun dan berganti kendaraan mobil (Angkot) menuju desa Arahan karena Kereta api yang kami tumpangi tidak berhenti di Desa Arahan (stasiun Banjarsari).

Sesampainya kami didesa Arahan semua keluarga terutama ayah, ibu kakanda Husni, adinda Rumsyah dan masyarakat pada umumnya merasa terkejut atas`kedatangan kami, karena kepulangan kami tidak diberitakan sebelumnya, sehingga merupakan” surprise “ bagi mereka.

Dikampung keluarga melaksanakan acara “Syukuran” atas kepulangan kami dengan mengundang sanak famili. Kenangan khusus kepada Uwaik dalam pelaksanaan acara ini beliau dengan semangat tinggi menyumbangkan tenaga dan keahlian beliau untuk memasak “Gulai kambing dengan bumbu yang beliau racik sendiri, merupakan gulai “Utama dan Sedap” dalam acara malam syukuran ini.

Selama dikampung kami menikmati keindahan sungai Lematang dengan mandi dan berenang disungai yang deras dan dalam ini. Masyarakat kagum melihat ketrampilan Iyang menyelam dan berenang (mereka tidak tahu kalau Iyang itu “antu banyu”sungai Musi yang berasal dari Danau Maninjau).

Kami berkesempatan berkunjung kepada ahli famili di desa sekitar dan kota Muara Enim, Tanjung Enim. Pergi ke kota Lahat untuk berkonsultasi dengan dokter tentang kondisi kesehatan kami.

Setelah satu minggu berada dikampung kami kembali ke Jakarta dan mampir di Kota Tanjung Karang untuk menemui kakanda M.Soleh Zubir yang tinggal di Tanjung Bintang.

Perjalanan panjang dan lama yang melelahkan itu mendapat “barkah” dari Allah swt, tidak ada suatu hambatan yang berarti, semua rencana berjalan dengan baik dan terlaksana dengan sukses..

Dan suatu kenangan yang sangat terkesan bagi kami dan keluarga di Jakarta adalah semangat Uwaik yang begitu tinggi mendampingi cucu kesayangannya untuk berkunjung ke desa Arahan (kampung suami cucunya), walaupun umurnya sudah sepuh menempuh perjalanan jauh dan melelahkan namun tidak tampak keletihan pada diri beliau.

Kini kami telah kembali ke Jakarta dengan selamat dan puas.Alhamdulillah.

c. Pindah rumah ke Tebet Timur

Kami menikah pada tanggal 20 Januari 1967. Pada tanggl 23 Oktober 1967 lahirlah buah hati kami yang pertama yang kami beri nama Herdiansyah. Pada saat itu ayah Iyang Abd.Bari Arif mulai menamakan dirinya Babo, suatu panggilan manja cucu dari anak perempuan. Herdiansyah sehari-hari kami panggil “Herdi” merupakan putra/cucu/cicit pertama pada generasinya dalam keluarga Iyang. Tidaklah heran jika Babonya hampir setiap hari datang menemui cucunya ke Ciputat walau jaraknya cukup jauh dengan tempat tinggal mereka di Tebet Barat. Menyadari situasi dan kondisi ini serta menyambut tawaran keluarga untuk menempati Rumah Mamak Iyang yang kosong di Tebet Timur maka sejak Herdi berumur 100 hari pada bulan Januari 1968 kami meninggalkan Komplek IAIN Ciputat dan hijrah Ke Jl. Kemajuan Tiga (kini Tebet Timur I A) nomor 3 Rt. 0012 RW.05 Kelurahan Tebet Timur Kecamatan Tebet Jakarta Selatan. Dan tempat tugaspun pindah menjadi Guru PGAN Jakarta di Mampang Prapatan sekitar Tebet.

Selasa, 16 Juni 2009

MEMBINA RUMAH TANGGA "SAMARA" (1)

A. PENDAHULUAN.

Rasulullah saw banyak sekali memberikan petunjuk kepada ummatnya untuk membina keluarga, sejak dari mencari jodoh, kriteria calon jodoh yang ideal, cara melamar sampai kepada prilaku dan sikap seorang suami atau isteri dalam membina Rumah tangga. Jika petunjuk-petunjuk beliau itu diikuti dan dilaksanakan dengan baik maka akan terciptalah Rumah tangga yang aman dan tentram dibawah naugan “Ridlo Allah swt” dan Rumah tangga ini berfungsi sebagai “Surga” bagi keluarga, sebagaimana diucapkan Rasulullah s.aw. dalam sabdanya :

“Baiti Jannati” - “Rumahku Syurgaku” suatu keluarga Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah, Inilah yang kami maksudkan Rumah tangga “SAMARA.

Setiap orang sangat mendambakan Rumah tangga yang ideal , namun banyak kendala yang dihadapinya misalnya kurang dapat memadukan kedua sifat yang berbeda antara suami dan isteri, demikian juga pengaruh negatif dari luar (faktor extern), dan ada juga karena faktor ekonomi yang dihadapi dengan sifat yang kurang sabar, akhirnya rumah tangga menjadi berantakan sehingga tidak menemukan Rumah tangga yang dicita-citakan, Na’uzu billahi min dzalik.

Kini kami telah mengharungi lautan dengan ombak dan badainya dalam membina rumah tangga selama 40 tahun dalam situasi yang Stabil dan terkendali, sehingga anak-anak cucu mengadakan Syukuran Akbar atas situasi ini pada saat Hari Ulang Tahun Perkawinan kami ke 40 , tepatnya tanggal 20 Januari 2007, sambil menyambut kelahiran cucu yang ke tujuh dirumah ananda Ahmad Hamami di Gardenia Estate. (Baca Acara Syukuran Akbar).

Apa yang kami dambakan syukur alhamdulillah telah kami dapatkan,kini tengah menikmati HariTua” yang ditopang oleh anak-anak yang sudah mandiri. Untuk mengenang liku-liku kehidupan yang telah kami lalui, menjelang usia lanjut ini ingin mewariskan “Nilai-nilai dan Semangat Juang” menghadapi dialektika kehidupan kepada Anak cucu dan zuriyat yang mungkin dapat mereka jadikan sebagai “Pembanding” dalam menapak kehidupan mereka. Tulisan ini di beri judul :

“ MEMBINA RUMAH TANGGA SAMARA”

Dalam tulisan dan uraian ini kami ungkapkan apa adanya menurut apa yang kami ingat dari pengalaman masa lalu. Mungkin Pembaca akan menemukan kejanggalan dan kekurangannya , hal ini kami anggap wajar-wajar saja. Namun ingin kami nyatakan bahwa jika dalam tulisan ini kami menyebutkan “Person-Nama” dan “Kepedulian kami” kepada mereka tidak ada sama sekali terniat oleh kami untuk mengungkit dan menonjolkan Jasa kami dan mengecilkan serta menyinggung mereka, tetapi dengan tujuan agar anak cucu dan zuriyat kami dapat melanjutkan dan menyambung “silaturrahim” kepada mereka karena mereka telah kami anggap sebagai anggota keluarga.

Demikian juga dalam tulisan ini banyak sekali kami menampilkan pran aktif Iyang sebagai istri dan pendamping hidup saya, inipun tidak bermaksud ingin menonjolkan kelebihan yang dimilikinya tetapi kami tulis apa adanya bagaimana kiprah, dukungan, kesabaran dan penderitaan yang Iyang berikan saat mendampingi saya dalam menapak liku-liku kehidupan.

Akhirnya tulisan ini ditampilkan dalam rangka melaksanakan salah satu firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Adl-Dluha ayat 11 yang berbunyi :

“ FA AMMA BINI’MATI ROBBIKA FAHADDITS”

(Nikmat Allah hendaklah diungkapkan)

  1. Jati Diri.

Orang tua memberi saya nama AHMAD BAIDLAWI dengan lafaz dan dialek “Arab” atas petunjuk dari seorang ‘ulama’ desa kami K.H.A.Dahlan alumni Pondok Pesantren Al Khairiyah Citangkil Banten dan beberapa Pondok Pesantren lainnya di P. Jawa. Nama Ini diambil dari nama seorang ‘ulama’ tafsir Al Qur’an Timur Tengah dengan harapan agar dapat mengikuti jejak beliau sebagai ‘Ulama’. Dialek desa kami sulit mengucapkan kata BAIDLAWI sesuai dengan aselinya sehingga berobah menjadi BIDAWI lengkapnya AHMAD BIDAWI ZUBIR, kemudian kata/nama inilah yang digunakan sebagai nama resmi atau identitas dalam Pendidikan, Pegawai Negeri, Kartu Tanda Penduduk (KTP), Pasport dan Identitas Resmi lainnya.

Ayah bernama Muhammad Zubir sehari-hari kami (anak-anaknya) memanggil beliau “BAPAK” sedangkan orang-orang kampung kami memanggil beliau Masubir, putra ke empat dari pasangan nenenda Yaunah dan Haji Abdul Shomad bin Haji Muhammad Nur alias Derunuk bin Singki Lingkring. Saudara ayah sebanyak empat orang masing-masing bernama Abdul Manan, Mohammad Adnan, Mohammad Kari dan Abdul Muis.

Ibu bernama Nurayu binti Abdul Kusir, sehari hari kami (anak-anaknya) memanggil beliau “ENDUK” mempunyai 6 orang saudara masing-masing bernama:Suriam, Salna, Abdul Karim, Siti Rohani, H. Marsyid dan Abul Hasan.

Saya dilahirkan di Desa Arahan pinggir sungai Lematang, Marga Puntang Suku Merapi Kecamatan Merapi Kabupaten Lahat Propinsi Sumatera Selatan pada hari Selasa tanggal 14 Agustus 1942. Anak ke 8 dari 10 orang bersaudara, 9 orang laki-laki dan satu orang (sibungsu) perempuan bernama ROMSYAH.

5 orang meninggal di usia bayi yaitu nomor 1.Mohamad Amin, 2, Budin, 3,4, Ahmad dan Muhammad (kembar) dan nomor 6 kembali diberi nama Mohammad Amin. Sedangkan nomor 7 (M.Husni) meninggal tahun 1995 berumur 55 tahun dan nomor 9 bernama (H.Ahmad Fanani) meninggal pada tahun 2001 berumur 56 tahun. Sejak tahun 2001 kami tinggal tiga bersaudara yaitu saya sendiri Drs.H.A.Bidawi Zubir menetap di Jakarta, Kakanda M.Soleh tinggal di Tanjung Bintang Lampung Selatan dan Adinda Hj. Romsyah menetap di desa kami Arahan.

2. Menemukan Teman yang Ideal.

Dalam situasi santai sekarang ini terkenang masa lalu ditahun 1963 saat bertemu dan berkenalan dengan seorang Mahasiwi baru di Kampus IAIN Ciputat dan lebih akrab lagi setelah bersama-sama dalam kegiatan Organisasi Peguyuban Mahasiswa yang berasal dari daerah Sumatera Bagian Selatan “KEMAS”( Keluarga Mahasiswa Andalas Selatan) yang terdiri Propinsi Palembang, Lampung, Jambi, Bengkulu dan Bangka Belitung.

Dia adalah Mahasiswi baru yang nampak feminin selalu memakai busana “Kebaya” namun berpenampilan penuh semangat, berasal dari Ranah Minang namun dibesarkan dipinggir Sungai Musi sehingga terkesan bahwa Dio adalah Wong Kito Nian. Jika dia berbicara Bahasa Palembang, dialek dan intonasinya tidak terdengar Bahasa Ibu (Minang) sehingga tidak meragukan lagi bahwa dia adalah warga yang tidak bisa berpisah dengan Pempek dan Kapal Selam. Dalam pergaulan seharihari dia lebih akrab bergaul dengan Mahasiswa yang berasal dari Sumbagsel dengan organisasi KEMAS dari pada dengan para Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Mahasiswa Minang ASA (Awak Samo Awak).

Rupanya dia adalah seorang aktifis Pendiri PII di Sumatera Selatan pada tahun 1960 han, kegiatan Organisasi merupakan hobbynya sehingga dalam Peguyuban KEMAS dia ditunjuk sebagai salah seorang Pengurus inti. Sebagai seorang aktifis PII maka diorganisasi ekstra universiter Kampus IAIN Ciputat beliau diangkat sebagai salah seorang pengurus inti HMI Cabang Ciputat disaat kepemimpinan Cabang diketuai oleh Cak Nur (Nurcholis Majid). Pada saat itu saya sendiri tercatat sebagai salah seorang Ketua PMII Cabang Ciputat. Namun kami yang sama-sama aktifis pada organisasi ektra universiter bersatu dalam kegiatan intra unversiter yaitu Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah saya sebagai SekretarisUmum dan dia sebagai Bendahara Umum dan Ketua Umumnya adalah Abdul Munir Sany yang berasal dari Riau.

Mahasiswi baru yang berpenampilan feminin dan aktifis organisasi ini adalah SUMIARTY ABSYAR yang sehari-hari dirumah dipanggil dengan panggilan kesayangan IYANG dan dikampus dengan panggilan SUM. Setelah saling mengenal beberapa tahun baik dalam kegiatan organisasi intra universiter maupun dalam organisasi Peguyuban Mahasiswa Sumbagsel KEMAS, terbetik dihati ingin mengenalnya lebih jauh lagi untuk tujuan khusus. Rupanya kata berjawab gayung bersam\but, hal ini diketahui pada saat saya mengirim utusan untuk bersilaturrahim kerumah orang tuanya yang berada dikawasan Tebet Barat. Kunjungan diwakili oleh Kakanda M.Yahim Singgam teman Mahasiswa berasal dari Tanjung Sakti Pagar Alam dan isterinya (ayuk Suliana) yang sangat mendukung persahabatan kami karena kami sering mengadakan pertemuan dirumah beliau sambil bermain dengan putra tertua mereka Edy Heraldy yang lucu baru berumur satu tahun.

Dari pertemuan silaturrahim ini dapat diketahui bahwa Iyang masih berstatus bebas dan belum ada jodoh yang yang disiapkan oleh orang tuanya sehingga masih ada kesempatan bagi saya untuk berpacu. Alhamdu lillah.

Jumat, 22 Mei 2009

photo

prasasti istana arahan

persemian man arahan

bersama anak mantu dan 5 cucu


cucu tertua nanda menggunakan baju palembang
cucu putri dinda & nashel

cucu laki laki prama dan audrik

TASYAKURAN AKBAR

Nikmat-nikmat Allah Swt dari hari kehari terus dikaruniakanNya kepada kami yang selalu diiringi dengan ucapan rasa Syukur, sehingga firmanNya “Lain syakartum la azidannakum walain kafartum inna ‘azabi lasyadid “ berlaku bagi keluarga kami.
Tidak terasa umur kami telah berkepala enam, cucu telah berjumlah tujuh orang yang terdiri dari laki dan perempuan, masa perkawinan kami telah mencapai empat puluh tahun. Pada saat lahir cucu ketujuh , semua anak, menantu dan cucu berkumpul menyambut tamu baru ini. Ditengah-tengah gelak tawa bahagia Ahmad Hamami sang ayah dari anak yang baru lahir ini diruang keluarga rumahnya dia berucap dengan serius : Tahun ini merupakan tahun yang banyak nikmat Allah yang patut kita syukuri diantaranya ; Kakanda Ir.Herdiansyah beserta isteri baru pulang menunaikan ibadah haji bahkan Haji Akbar. Yang disebut namanya (H.Herdiansyah) memotong spontan dengan ucapan “justru lebih-lebih lagi nikmat Allah bagi ayah dan ibu dimana bulan ini tepatnya tanggal 20 Januari 2007 merupakan HariUlang tahun ke empat puluh pernikahan beliau.
Akhirnya mereka sepakat ingin mengadakan acara syukuran yang mereka beri nama Tasyakkuran Akbar dengan materi pokok :
a. Tasyakkuran menyambut kehadiran sang bayi ,
b. Tasyakkuran menyambut tamu Allah yang baru menunaikan Ibadah Haji dan ke
c. The last but not list Tasyakkuran Ulang Tahun Pernikahan Ayah dan Ibu yang ke 40 tahun. Atas kesepakatan mereka ini kami selaku ayah dan ibunya menyambut dengan linangan air mata bahagia dan haru.. Mereka langsung menyusun perencanaan ; Tempat,hari/tanggal, waktu/jam,Undangan serta persiapan-persiapan lainnya. Tanpa ada kesuliatan semua perencanaan dan persiapan mereka sepakati dengan materi pokok serta pembagian tugasnya :

1. Waktu : Hari Minggu tanggal 18 Februari2007 Jam 10.00 s/d selesai.
2. T e m p a t : Rumah Ahmad Hamami, Gardenia Estat , Blok A 4 No.9.
3.Undangan sebanyak lebih kurang 200 orang yang terdiri dari : keluarga, tetangga, Teman, Ayah dan ibu.
4. Tenda dan kursi serta Catering yang memadai .
5. Pengisi Acara ; Sambutan Sesepuh, Mewakili Keluarga, Pembaca Al Qur’an dan Barzanji, Penyampai Tawshiyah Tasyakkuran,Pembaca Do’a , Dan lain-lain

Memperhatikan mereka begitu terampil membuat perencanaan dan time schedul dalam waktu singkat , menambah kebahagiaan tersendiri bagi kami karena mereka menguasai ilmu administrasi -management. dan taktik bermusyawarah. Melihat situasi ini ibunya berkomentar : “Siapa dulu Ibu dan ayahnya ?”



Pelaksanaan Acara.

Sehari sebelum acara dimulai semua persiapan yang direncanakan sudah siap, namun seluruh keluarga diliputi rasa cemas dan was-was karena hari pelaksanaan acara jatuh pada hari Tahun Baru Imlek, dimana menurut pengalaman pada malam dan siang harinya tidak pernah luput dari curahan hujan lebat. Jika waktu itu tidak turun hujan lebat maka masyarakat china menganggap kurang baik. Memang kebiasaan ini berlaku pada tahun ini, Pada hari Sabtu sore tanggal 17 Februari 2007 hujan turun sangat lebat bahkan banjir melanda depan rumah yang sudah dipasang tenda serta kursi buat tamu besok terendam air, masyarakat yang akan menyambut Tahun Baru Imlek merasa bahagia, bagi kami yang akan menyambut tamu besok merasa cemas. Ditengah banjir sedang menggenang halaman rumah , kami bertadlarru’ kepada Ilahy kiranya kami diperkenankan Ikromu aaddhoif /menghormati tamu undangan tasyakkuran besok hari,
Tadlarru’ (do’a yang sangat khusyu’) kami didengar dan dikabulkan Allah, hujan berangsur reda dan banjir yang begitu besar berangsur surut dan tepat pada jam 2 dinihari Minggu hati kami lega dan mengucapkan Alhamdulillah, Cuaca terang, halaman rumah kering kursi dibawah tenda kembali dirapikan.

Tepat pada waktu yang direncanakan para tamu mulai hadir, matahari sangat bersahabat dan menggembirakan kami langit biru tidak nampak tanda-tanda hujan akan turun, kembali ucapan syukur alhamdulillah kami lantunkan dari lubuk hati yang dalam. Setelah tamu yang kami undang sebagian besar sudah hadir dan perangkat pengisi acara sudah lengkap maka Drs.H.Safriansyah MBA putra kedua kami dengan lafaz yang fasih ,terang dan lancar selaku Pembawa Acara membuka acara dengan susunan acara sbb. :
1. Pembukaan : Pembawa Acara
2. Sambutan Keluarga : Ir.H.Herdiansyah.
3. Sambutan Sesepuh : 1.Prof.DR.H.Husni Rahim.
2.Drs. H. Z u m a i d i.
4. Peresmian Nama Bayi :
a. Pembacaan Al Qur’an : Drs. H.Mursyid Qori Al Hafizh.
b. Pembacaan Barzanji : Aly Imran Al Hafizh
Abu Zar
Syamsuri
c. Marhaban : Drs. H.Mursyid Qori
d. Peresmian nama : Kakek Bayi (Drs.H.A.Bidawi Zubir)
5. Tawshiyah Tasyakkuran : Drs.H.Choliluddin AS, M.Ag.
6. Do’a Penutup : Drs. H. Bakri Rahman.


Uraian Acara :
1.P e m b u k a a n :
Pembawa Acara setelah menyampaikan susunan acara mengajak para hadirin untuk membaca Ummul Qur’an Al Fatihah sebagai tanda acara akan segera dimulai.
2.Sambutan Keluarga.
Untuk sambutan keluarga ditunjuk Ir.H.Herdiansyah selaku putra tertua, menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas`kehadiran para tamu yang mulia. Menyampaikan maksud`dan tujuan undangan yaitu melaksanakan “tahaddus bini’mah” mensyukuri nikmat Allah ; Atas`kelahiran sanga Bayi, Kepulangan dari tanah suci dan Ulang Tahun ke 40 Pernikahan ayah dan Ibu. Mengucapkan permohonan ma’aaf jika dalam pelaksanaan acara sejak dari penyambutan sampai selesai acara ada hal-hal yang kurang pantas.
a. Tentang bayi yang baru lahir adalah anak ke tiga dari Ahmad Hamami yang merupakan cucu ketujuh dari ayah dan Ibu.
b. Tentang kepulangannya dari tanah suci mohon do’a kiranya mereka dapat menyandang predikat haji dengan baik.
c. Tentang Hari Ulang Tahun Perkawinan ayah dan Ibu ke 40 kami mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan ayah dan ibu sejak masa Mahasiswa beliau, pelaksanaaan pernikahan sampai kepada bermsyarakat khususnya di Ciputat ini mendapatkan bimbingan,bantuan sehingga mencapai usia perkawinannya yang ke 40 ini .

3. Sambutan Sesepuh :
a. Sambutan sesepuh yang pertama disampaikan oleh Prof.DR.H.Husni Rahim.
Beliau ditempatkan sebagai salah seorang sesepuh Daerah Sumatera Selatan karena beliau dipandang seorang yang sangat tekun dan gigih dalam pembinaan karir dan pendidikannya. Walaupun beliau lebih muda dari kami namun beliau telah menunjukkan karir dan jabatan yang maksimal.Dibidang Pemerintahan beliau telah menduduki Jabatan Eselon I (Direktur Jenderal Binbaga Islam) dalam bidang Ilmiyah beliau telah mendapatkan gelar DOCTOR dan PROFESSOR . Beliau mempunyai sikap yang sangat familiar dan peduli terhadap teman-temannya tanpa pandang bulu. Dalam sambutannya beliau menyambut dengan positif acara ini, mengucapkan terima kasih atas undangan dan kesempatan berbicara dalam acara tasyakkuran ini. Beliau dengan nada yang lembut turut memberi komentar positif atas keberhasilan kami dalam mendidik anak-anak serta kebahagiaan yang kami nikmati pada saat usia perkawinanan kami ke 40 tahun ini. Seluruh hadirin yang sebagian besar dari daerah Sumatera Selatan merasa puas dan kagum melihat dan mendengar ucapan dan penampilan beliau yang begitu mengesankan .
b. Sambutan Sesepuh kedua diminta kepada Bapak Drs.H.Zumaidi.
Beliau merupakan senior kami , karena beliau adalah mahasiswa IAIN Jakarta yang lebih dulu dua tahun dari kami datang di Ciputat (1960) sedangkan kami baru masuk ke IAIN Ciputat pada tahun 1962. Disamping itu secara historis beliau banyak sekali kenangan khusus dalam membina kami pada awal kami tinggal di Kampus IAIN Ciputat, termasuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan kami yang masih membawa tempramen budaya asal kelahiran kami. Dalam sambutannya beliau mengajak kami untuk mengenang situasi pada tahun 1960 an yang masih penuh dengan cerita-cerita nostalgia Ciputat sebagai daerah yang dijuluki “tempat jin buang anak” yang menunjukkan bahwa Ciputat adalah daerah pinggir kota yang penuh dengan cerita-cerita mistery. Cerita beliau deselingi dengan cerita yang bersifat lucu,gembira, sedih, ngeri, cemas, takut dan lain-lainnya. Para hadirin yang ikut mengetahui dan merasakan saat-saat yang beliau ungkapkan itu menampakkan mimik yang berbeda-beda sehingga betul-betul kami dibawa beliau kezaman 45 tahun yang lalu. Wajarlah kalau beliau mendapatkan perhatian khusus dari para hadirin, karena beliau adalah sosok panutan, dalam karir jabatannya beliau dari seorang pegawai administrasi di IAIN Ciputat dapat menembus sekat yang sulit dengan mutasi ke Departemen Dalam Negeri dan mendapat jabatan-jabatan Eselon II yang strategis dan terakhir beliau sebagai Juru Bicara Departemen Utama di Republik ini (Departemen Dalam Negeri) dengan memangku jabatan sebagai Kepala Biro Hubungan Masyarakat. Sejak kuliah beliaupun sangat gigih berbisnis yang mendapatkan hasil yang cukup sukses dengan memiliki salah satu ruangan tokoh di Pusat Pertokoan yang megah di Pasar Blok M Kebayoran Baru.
4. Peresmian Nama Bayi :
Acara ini dipimpin oleh DRS.K.H.MURSYID QORY AL HAFIZH seorang ‘ulama’ muda yang penuh dengan kedalaman Ilmu Agama Islam , beliau seorang hafizh (hafal Al Qur’an 30 juz) jebolan dari Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an (PTIQ) Jakarta, Pelatih para Calon Peserta MTQ Nasional dari seluruh Propinsi, bahkan beliau sebagai Anggota Dewan Hakim MTQ Nasional. Basis beliau adalah sebagai Pimpinan Yayasan Islam Al Ittifaqiyah Indra Laya Kabupaten OI Sumatera Selatan yang membina Pondok Pesantren Al Itifaqiyah bahkan beliau sebagai Mudirnya.
Untuk melaksanakan acara peresmian nama bayi ini diawali oleh Drs.K.H.Mursyid Qory dengan melantunkan qira’at sab’ah atas Surat Ar Rahman. Seluruh hadirin terpukau dengan kemahiran beliau menampilkan qiro’at sab’ahnya ini. Kemudian dilanjutkan dengan Pembacaan Barzanji oleh para Mahasiswa PTIQ. Pada saat bacaan sampai kepada materi detik-detik kelahiran Muhammad Saw maka para hadirin semua berdiri dan dilantunkanlah ucapan pujian dan Marhaban (selamat datang) kepada baginda Rasulullah………..Dalam situasi haru yang dilatar belakangi dengan lantunan Marhaban oleh suara syahdu para Qori ini saat itu keluarlah sang bayi yang digendong oleh Pak Ciknya H.Syukri Fanani dengan alas kain songket Palembang dan diiringi oleh prosesi yang terdiri dari Bendera kembang uang dan Minyak Farpum serta seperangkat alat penggunting rambut bayi diatas nampan disamping kelapa muda nyiur hijau. Para hadirin yang dilewati prosesi ini semuanya menggunting rambut bayi, mengelus kepala bayi diiringi doa bagi sang bayi. Setelah selesai para hadirin memberikan do’a restu bagi sang bayi maka lantunan ucapan Marhaban selesai dan para hadirin kembali duduk. Saat itu sang bayi diletakkan dihadapan para hadirin dan secara langsung kakek sang bayi H.A.Bidawi Zubir duduk bersimpuh disamping bayi dimulai dengan mengucapkan Basmalah kemudian melaksanakan upacara sakral dengan ucapan : “YAA GHULAAM SAMMAITUKA : AHMAD JASTINAN ABINAYA ‘
(wahai bayi yang baru lahir kuberi nama engkau dengan Ahmad Jastinan Abhinaya) , Ucapan ini disambut dan diteruskan oleh Drs.K.H.Mursyid Qory dengan rangkayan do’a selamat untuk sang bayi. Dengan ucapan ini maka resmilah nama sang bayi ini dengan nama AHMAD JASTINAN ABHINAYA Selesai dibacakan do’a maka selesailah acara peresmian pemberian nama sang bayi. kemudian sang bayipun dibawa kembali kekamarnya..

5. Tawshiyah Syukuran
Acara ini dimaksudkan untuk memberi makna bagi hadirin apa yang dimaksud dengan istilah syukur nikmat itu. Untuk menyampaikan tawshiyah ini dimintakan kepada Bapak Drs.H.Choliluddin AS, M.Ag. Beliau adalah salah seorang Dosen Senior UIN Syahid yang berpengalaman memberikan ceramah dilingkungan masyarakat UIN dan sekitarnya. Disamping itu beliau mempunyai hubungan persahabatan secara khusus kepada kami terutama sekali pada saat kami baru menjadi Mahasiswa IAIN Ciputat Jakarta pada tahun 1962, beliau termasuk tokoh mahasiswa pada saat itu.
Dengan gaya khusus beliau yang santai dan berfariasi kadang-kadang serius kadang-kadang humoris yang dilandasi dalil-dalil naqli dalil akal dan ilmiyah beliau menerangkan dengan jelas apa yang dimaksud dengan syukur nikmat, kemudian mengupas satu persatu materi yang sedang dihadapi :
Pertama beliau mengupas tentang kehidupan berumah tangga yang dikaitkan dengan Sakinah,mawaddah dan rahmah kemudian dikaitkan dengan Pendidikan terhadap putra putri sejak dini untuk ini beliau landasi dengan makna yang terkandung dalam Surat Al Fatihah secara satu persatu ayat-ayat .. Surat Al Fatihah beliau uraikan dengan bahasa yang sangat komunikatf.Untuk ini beliau menekankan jika pendidikan anak sejak dini dilandasi makna-makna yang terkandung dalam surat Al Fatihah ini insya Allah akan mendapat keberkahan.
Kedua, beliau membahas`tentang syukur nikmah menjadi dhuyufurrahman/tamu Allah dalam rangka menunaikan rukun Islam yang kelima ketanah suci Makkah Al Mukarromah. Beliau terangkan kesemua itu dengan jelas dan gamblang dan para hadirin begitu terpukau dengan uraian beliau ini dan merasa uraian beliau ini sangat bermanfaat dalam tuntunan kehidupan berumah tangga..
6. Kesan Orang Tua.
Acara ini adalah merupakan inisiatif spontan dari Pembawa Acara Drs.H.Safriansyah MBA, meminta ayahnya untuk menyampaikan kesan atas Upacara Sukuran Akbar ini. Atas permintaan ini kamipun menyambut sangat antusias . Dalam kesan singkat kami yang pertama mengucapkan terima kasih kepada putra-putra kami yang telah menyelenggarakan Upacara ini, kemudian mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh hadirin yang telah berkenan hadir..Sambutan para pinisepuh serta lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an,Barzanji dan Marhabah serta Tawshiyah dari Penceramah betul-betul merupakan kesempurnaan bagi kebahagiaan kami pada saat ini.

7. Do’a Penutup.
Untuk memimpin do’a Penutup kami mintakan kesediaan teman senasib sepenanggungan dari daerah (Lahat) Drs.H..Bakri Rahman . Beliau adalah teman yang tidak dapat dilupakan disaat susah dan senang, karena dengan beliaulah kami menginjakkan kaki pertama kali masuk ke daerah Ciputat ini pada tahun 1962, kemudian selama satu tahun sekamar dengan beliau digubuk Cimanggis dengan segala kesan pahit getirnya kehidupan Mahasiswa baru.
Atas permintaan ini beliaupun menyambut dengan rasa haru dan khusyu’, hal ini terasa dalam lantunan do’a yang beliau ucapkan dengan suara yang sendu, mungkin beliau terkenang dengan situasi kesederhanaan dan prihatin saat kami baru masuk Jakarta 45 tahun yang lalu.
8. Acara Ramah tamah.
Dalam acara ini kesempatan untuk beramah tamah dengan seluruh hadirin sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh anak-anak.
9. P e n u t u p .
Allah memberkahi Upacara yang dilaksanakan ini sebagai manefestasi dari Tahaddus bi ni’mah, hal ini sangat terasa setelah seluruh acara berjalan dengan sempurna dan lancar dan pada saat seluruh tamu undangan pulang dan hanya tinggal keluarga inti, Allah menurunkan hujan yang sangat lebat dan membuat depan rumah banjir besar. Hujan dan banjir ini kami sambut dengan ucapan terima kasih Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan Acara dan menerima serta Ikromadluyuf / menghormati tahmu dengan sempurna . Alhamdu lillahi Robbil ‘alamin.-


Ciputat, 18 Februari 2007.

PERSEMBAHAN BUAT IBU DAN AYAH

TERIMA KASIH WAHAI IBU DAN AYAHKU
KAMI TELAH DIBESARKAN
KAMI TELAH DIDIDIK, DIMANJAKAN, DISAYANG
DAN ENTAH APA LAGI PENGORBANAN AYAH DAN IBU
YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA KAMI
KAMI MERASA TENTRAM DAN BAHAGIA DALAM PELUKANMU
CONTOH SURI DAN TAULADAN YANG KAMI AMATI
KAMI MENILAI IBU DAN AYAH
MAKHLUK PARIPURNA DALAM MENYIAPKAN GENERASI PENERUS
IBU ….. AYAH … YANG KAMI SAYANGI DAN BANGGAKAN
KINI KAMI TELAH BERADA DIATAS` BIDUK
KAMI MULAI MERANGKUH DAYUNG
DISAAT BIDUK MENINGGALKAN DERMAGA
KAMI SEMPAT MENOLEH SEKELILING
BANYAK SAMPAN YANG BERJALAN DITEMPAT
WALAU SUDAH DIDAYUNG SEKUAT TENAGA
KELIHATAN MEREKA REPOT SEKALI
APAKAH GERANGAN YANG MENGHAMBAT MEREKA ?
ADA SESUATU YANG ANEH DAN MISTERY

AKHIRNYA KAMI MENEMUKAN JAWABAN
MENGAPA BIDUK KAMI MULUS DAN LANCAR
MENINGGALKAN DERMAGA

RUPANYA AYAH DAN IBU TELAH MENYIAPKAN START BUAT KAMI
KUNCI BESERTA RANTAI TELAH DIBUKA DAN DIURAI
SAUH YANG BERAT TELAH DIANGKAT KEATAS BIDUK
DAYUNG TELAH TERSEDIA BUAT KEMUDI
GALA H PANJANG BEGITU KOKOH BUAT PENUNJANG

KALAU TIDAK …….
KAMI AKAN IKUT BERKUTAT DIDERMAGA
ENTAH BERAPA LAMA ………..

IBU ……. AYAH …….
KINI KAMI TELAH MENINGGALKAN DERMAGA DENGAN MULUS
BIDUK BERLAYAR DIBAWAH TIUPAN ANGIN SPOI SEMILIR
MENGENANG SAMBIL MENIKMATI HASIL KASIH SAYANGMU
DENGAN UNTAIAN DO’A : “ ALLAHUMMA YA ALAH KASIHANI
DAN SAYANGI IBU AYAH KAMI SEBAGAIMANA MEREKA MENYAYANGI
KAMI SEJAK KAMI KECIL HINGGA DEWASA. KARUNIAILAH MEREKA
KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN DIDUNIA SAMPAI AKHIRAT” AMIN.

IBU …….. AYAH …… TERIMALAH BAKTI KAMI.

CATUR TUNGGAL – PUTRA-PUTRAMU

Kamis, 21 Mei 2009

SELAMAT BERLAYAR ANAK KU

ANAK-ANAKKU
AYAH INGIN MENGGORESKAN PENA
MENGENANG MASA LALU BERUPA NAPAK TILAS KEHIDUPAN
AYAH DILAHIRKAN, DIBESARKAN DAN BERMAIN DIALAM YANG BELUM TERKENA POLUSI. DI DAERAH PEDALAMAN SUMATRA SELATAN, TEPATNYA DESA ARAHAN KECAMATAN MERAPI , LAHAT.
AYAH BELUM MENGENAL ISTILAH CITA-CITA.
LINGKUNGAN DAN ALAM SEKITAR, BELUM MENDUKUNG
UNTUK MEMAHAMI KATA CITA-CITA
HIDUP DAN KEHIDUPAN AYAH HANYA MELALUI PROSES ALAMI
PERJALANAN ……. “BAK GOMBAL HANYUT”
KADANG BERTEMU DENGAN ONAK
DISAAT LAIN TERSANDUNG TONGGAK.
DIKALA AIR PASANG HANYUTNYA LANCAR
DISAAT AIR SURUT LAJUNYA TERSENDAT
NAMUN …… AKHIRNYA SAMPAI JUA KEMUARA
DIMUARA AYAH MENEMUKAN TEMAN UNTUK BERJUANG
KAMI MENEMUKAN SEBUAH PERAHU USANG.
DIATAS`PERAHU KAMI MERANGKUH DAYUNG
SAMBIL MENIMBA AIR DARI DALAM PERAHU YANG BOCOR
PERAHU MELAJU TANPA ARAH YANG PASTI
UNTUNGLAH TEMAN BERLAYAR MENGERTI DAN TRAMPIL
FAHAM SITUASI DAN SABAR MENGATUR KEMUDI
PERAHU KECIL DAN BOCOR BERPENUMPANG SARAT
ADA PENUMPANG WAJIB DAN ADA PULA PENUMPANG SUNAT.
DO’A PENUMPANG MEMBAWA BERKAT
SEHINGGA KAMI TIBA DISEBERANG DENGAN SELAMAT
TIBA DISEBERANG PENUMPANG SUNAT LANGSUNG MELOMPAT
PENUMPANG WAJIB TETAP BERKHIDMAT UNTUK BERLAYAR
KINI MEREKA TELAH BERADA DIATAS PERAHU
PERAHU MEREKA KOKOH DAN MOLEK
PENUMPANGNYA TERBATAS`DAN WAJAR.
WAJAH MEREKA TAMPAK BERSERI
RASA`PUAS DAN BAHAGIA MELIHAT KECERIAHAN MEREKA
DARI PINGGIR DERMAGA KAMI MELAMBAIKAN TANGAN
DENGAN HATI YANG IKHLAS `SERAYA MELANTUNKAN DOA: ”BISMILLAHI MAJREHA WA MURSAHA INNA ROBBI LAGHOFURUR RAHIM” ”DENGAN NAMA ALLAH KALIAN BERANGKAT DAN DENGAN NAMA ALLAH PULA KALIAN BERLABUH”
“SELAMAT BERLAYAR ANAK-ANAKKU UNTUK MENCAPAI PANTAI “MARDHOTILLAH” AMIN.

BAMBU APUS, MALAM 27 RAMADHAN 1425 H
AYAH-IBU YANG MENYAYANGIMU

CURRICULUM VITAE

N a m a : DRS.H.A.BIDAWI ZUBIR
Tempat/Tgl. Lahir : Arahan - Lahat, 14 Agustus 1942
P e k e r j a a n : Pensiunan Kakanwil Dep.Agama.
A g a m a : I s l a m
A l a m a t :
1. Jl.Tebet Timur I A No.3 RT 12/05 Jakarta Selatan Telp 8296814
2. Komplek Pejabat Dep.Agama Bambu Apus Tangerang No. 12/C.8 Telp. No.7420779.
3. Wisma Derunuk, Jl. Raya Lintas`Sumatera Km.195 Desa Arahan Kecamatan Merapi Lahat Sumatera Selatan Telp.0734-42519. (HP. 08182518042/43).

Pendidikan :
1. S.R. Negeri Muara Enim Tahun 1956.
2. PGAP Negeri Tanjung Karang Tahun 1960
3. PGAA Negeri Palembang Tahun 1962.
4. IAIN Syahid Fak.Tarbiyah Jakarta (BA).Tahun 1966
5. UIC Fak. Ushuluddin Jakarta (DRS) Tahun 1969.
6. STIA LAN R.I. (DRS) Jakarta Tahun 1980.
7. SPADYA DEP.AGAMA Tahun1983.
8. SESPA DEP. AGAMA Tahun 1986.
9. STRATEGIC MANAGEMENT PLANNING COURS Amherst U.S.A. Tahun 1990.
10 . LEMHANNAS – KRA XXIV Jakarta Tahun 1991
11. Orientasi Keamanan Negara di Australia dan New Zaeland Tahun 1990.
12. Orientasi Pendidikan Modern di USA Tahun 2001

Pengalaman Kedinasan :
1. Mahasiswa Tugas Belajar pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Syahid) - (D/II) 1962-1966.
2. Pengawas Mahasiswa Tugas Belajar IAIN Syahid Jakarta dengan Pangkat (E/II) 1966-1968
3. Guru PGAN Jakarta E/III – II/d 1968-1970
4. Kasubbag pada Humas Dep.Agama Pusat Jakarta (II/d) 1970-1974
5. Diperbantukan pada Kejaksaan Agung Jakarta sebagai Kasi Agama BAPRERU (III/a) 1974-1978.
6. Kabag Perencanaan Ditjen Binbaga Islam Dep.Agama ( III/b - III/c) Jakarta 1978-1983.
7. Kabag Ditbinpaisun Ditjen Binbaga Islam Dep.Agama (III/d –IV/a). Jakarta 1983-1989
8. Kakanwil Dep.Agama Propinsi Maluku di Ambon (IV/b-IV/c)1989-1993
9. Kakanwil Dep.Agama Propinsi Sumatera Utara di Medan (IV/c-IV/d) 1993 - 1996.
10. Kakanwil Dep.Agama Propinsi DKI JAYA di Jakarta (IV/d) 1996-1998
11. Kakanwil Dep.Agama Propinsi Sumatera Selatan di Palembang (IV/d) 1998 -2002
12. 11. PENSIUN dengan Pangkat IV/e Tahun 2002.

Pengalaman :
1. Ketua PMII Cabang Ciputat Tahun 1964 Organisai Keasyarakatan
2. Ketua GP.ANSOR Cabang Ciputat Tahun 1965
3. Sekretaris Umum Senat Mahasiswa Fak. Tarbiyah IAIN Syahid Jakarta Tahun 1964
4. Sekretaris KAMI Komisariat IAIN Syahid Jakarta Tahun 1966.
5. Ketua RW 05 Kel. Tebet Timur Jkt. 1970-1980.
6. Dosen Un.Assysyafi’iyah Jakarta 1969
7. Dewan Kurator dan Dosen PTIQ 1971-1974.
8. Dosen Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) 1996-1998.
9. Pembina MUI : Prop. Maluku 1989 Prop. Sumatera Utara 1993, Prop.DKI 1996, Prop. Sum-Selatan 1998.
10. A’wan NU Prop.Sum-Sel Tahun 2000.
11. Pendiri dan Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shomadiyah (MTs, MA, Pon-Pes) Desa Arahan Lahat Sumsel 1999 sampai sekarang.
12. Mudir Pondok Pesantren Ash-Shomadiyah 2001 sampai sekarang.
13. Penasehat Peguyuban Masy.Kabupaten Lahat Jakarta 2002 – Sekarang.

K e l u ar g a :
Istri : Dra. Hj. Sumiarty Absyar
Anak-anak:
1. Ir. H. Herdiansyah.
2. Drs. H. Safriansyah, MBA.
3. Ahmad Hamami, S.Sos.
4. Zulfikri, ST.

Jakarta,

DRS.H.A.BIDAWI ZUBIR